Awal Tak Terlupakan
Dunia yang fana ini memang penuh dengan keindahan. Baik itu berupa
keindahan alam maupun indahnya perjalanan hidup. “Hidup itu indah dan akan
selalu indah bagi mereka yang senatiasa bersyukur” itulah motto hidup seorang gadis berparas ayu
nan lembut bernama Siti Nur Afifatunnisa. Lika – likunya hidup ini
menjadikannya menemukan keindahan dibalik rasa syukur yang selalu ia panjatkan.
Hari sudah terlarut malam namun
matanya tak bisa diajak kompromi untuk sejenak beristirahat. matanya masih
ingin beraktivitas dengan melihat tayangan yang disuguhkan stasiun televisi
swasta. Handphonenya berdering pertanda suatu pesan masuk. Ternyata pesan dari
teman SMPnya dulu. Ketika dia membuka handphone pikirannya langsung berlari
cepat mencari sebuah peristiwa yang tidak terlupakan. Gadis yang kerap disapa
afifah ini teringat pengalaman pertama kali dia masuk kerja di salah satu
pabrik teh di kabupaten Tegal. Awal yang tak terlupakan. Saat itu dia masih
buta akan sebuah pekerjaan. Maklum dia pertama kali bekerja setelah lulus
sekolah.
Awal bekerja, ada semacam training
untuk karyawan baru. Dia yang saat itu bekerja dibagian making or packing itu,
merasa takut melihat sosok Ibu Kamisah. Seorang pelatih karyawan-karyawan baru.
“Kelihatannya dia galak,” fikirnya. Ternyata apa yang dia fikirkan benar. Dia
bertubi-tubi disemprot dengan kata-kata yang tidak mengenakkan dari pelatihnya.
Penyebabnya karena dia tidak bisa-bisa melakukan hal yang pelatih ajarkan. “
kenapa ga bisa-bisa sih? Yang lain aja bisa. Yang rajin dan hasilnya juga
rapih,” kata pelatihnya. “kasihan banget ga bisa-bisa,” bisik teman-temannya.
Setiap mendapat omongan pahit
darinya dia menangis hatinya sambil bertanya kepada diri sendiri “ kenapa aku
nggak bisa-bisa, padahal ini gampang”. Dengan tekad yang kuat dan didukung
semangat yang membara agar bisa hari berikutnya dia mencoba berusaha agar hasil
dari kerjanya rajin dan rapih sehingga tidak omongan pahit dari pelatihnya.
Satu minngu berlalu akhirnya dia sudah mulai cekatan dalam bekerja. Hasilnya
pun bisa dibilang rajin dan rapih.
Tak terasa waktu kian berlalu. sekarang
sudah satu tahun lebih dia bekerja disitu. Dan sekarang Ibu Kamisah tidak
menjadi pelatih lagi dipabriknya dikarenakan faktor usia. “Terimakasih banyak
bu, telah mengajarkan ku sehingga aku bisa walaupun caramu kurang bersahabat,
tetapi itu membuatku bersemangat agar lebih baik lagi,” kalimat yang ingin dia
ucapkan kepada bu Kamisah jika bertemu.
Seperti yang diceritakan oleh Siti Nur Afifatunnisa tanggal 12
Desember 2014