Selembar Kertas Pembawa Rezeki
Tekad itu telah bulat. Persis
seperti lautan lepas, tak punya tepi. Terlalu kokoh untuk digoyahkan bagai
beton gedung pencakar langit. Pak Nur Wahidin kembali mendongak, menahan haru.
Teringat detail peristiwa 2 tahun lalu. Melepas pekerjaan matang untuk
menyambut bisnis yang belum tau wujudnya. Keinginannya untuk berwirausaha,
menerjang segala hambatan.
Pak Wahidin, biasa ia disapa tentu
masih ingat hari-hari bimbang itu. “Masa transisi yang begitu saya rencanakan,
keinginan untuk lebih mandiri, keuntungan yang lebih bisa menjajikan,” ucapnya
dengan senyum yang merekah.
Dukungan keluarga terutama istri dan
anak menambahkan gairah semangatnya. “Dahulu saya hanya punya modal sedikit dan
ada beberapa yang pinjam uang teman. Intinya modal itu saya cicil ,” ujar Pak
Wahidin dengan sorot mata menerawang. Melanjutkan cerita, Pak Wahidin ternyata
tidak berniat untuk membuka tempat fotocopyan. “Awalnya saya berfikir mungkin
mencoba bisnis apa saja tidak apa-apa. Lalu beberapa teman mulai
merekomendasikan untuk membuka tempat fotocopyan saja, karena berada di depan
gedung sekolah,” Terangnya dengan lancar. Kemudian harapan itu terbalas. Kios
kecil yang dibangun dengan keberanian itu, kini telah membuat ia tak menyesal
atas keputusannya dulu. Rasa takut yang jauh-jauh ia singkirkan, menjadi
sepercik semangat kemandirian. Walaupun tersiram air, tetap menyala dan
berkobar begitu gagah.
Semua doa yang ia panjatkan
terkabulkan, “Alhamdulillah sekarang sudah lebih baik. Alat- alat tulis semacam
ini juga mipil saya sediakan,” ucapnya dengan telunjuk menunjuk deretan alat
tulis, jadi tidak langsung ada semua,” Katanya.
Tawa riang anak-anak SMA N 1 Slawi
menjadi salah satu penghibur disaat lelah mendera “ Saya selalu senang
melakukan pekerjaan ini, begitu berwarna, anak-anak yang Selalu ribut saat
menunggu giliran fotocopy.” Derai tawa dan suara riuh kendaraan membuat ramai.
“ Terkadang saya keteteran, tapi itu tidak pula saya anggap sebagai kesedihan,”
Lanjut pria 38 tahun itu.
Terkadang ada beberapa anak sekolah
yang bersedia membantu sebentar saat pulang sekolah. Mereka juga sering mencetak
sendiri tugas yang dikasih gurunya karena saya sedang menangani banyak
fotocopyan.
Kini usahanya telah berjalan sukses.
Hasil dari usaha ini dirasanya cukup untuk menafkahi keluarganya untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari. Dan mengembangkan usahanya dengan melengkapi berbagai
alat tulis yang dibutuhkan siswa. Dan ia sangat menikmati usahanya berkat
senyuman dan canda tawa para pelanggan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar