Senin, 28 Oktober 2019


Selembar Kertas Pembawa Rezeki


            Tekad itu telah bulat. Persis seperti lautan lepas, tak punya tepi. Terlalu kokoh untuk digoyahkan bagai beton gedung pencakar langit. Pak Nur Wahidin kembali mendongak, menahan haru. Teringat detail peristiwa 2 tahun lalu. Melepas pekerjaan matang untuk menyambut bisnis yang belum tau wujudnya. Keinginannya untuk berwirausaha, menerjang segala hambatan.
            Pak Wahidin, biasa ia disapa tentu masih ingat hari-hari bimbang itu. “Masa transisi yang begitu saya rencanakan, keinginan untuk lebih mandiri, keuntungan yang lebih bisa menjajikan,” ucapnya dengan senyum yang merekah.
            Dukungan keluarga terutama istri dan anak menambahkan gairah semangatnya. “Dahulu saya hanya punya modal sedikit dan ada beberapa yang pinjam uang teman. Intinya modal itu saya cicil ,” ujar Pak Wahidin dengan sorot mata menerawang. Melanjutkan cerita, Pak Wahidin ternyata tidak berniat untuk membuka tempat fotocopyan. “Awalnya saya berfikir mungkin mencoba bisnis apa saja tidak apa-apa. Lalu beberapa teman mulai merekomendasikan untuk membuka tempat fotocopyan saja, karena berada di depan gedung sekolah,” Terangnya dengan lancar. Kemudian harapan itu terbalas. Kios kecil yang dibangun dengan keberanian itu, kini telah membuat ia tak menyesal atas keputusannya dulu. Rasa takut yang jauh-jauh ia singkirkan, menjadi sepercik semangat kemandirian. Walaupun tersiram air, tetap menyala dan berkobar begitu gagah.
            Semua doa yang ia panjatkan terkabulkan, “Alhamdulillah sekarang sudah lebih baik. Alat- alat tulis semacam ini juga mipil saya sediakan,” ucapnya dengan telunjuk menunjuk deretan alat tulis, jadi tidak langsung ada semua,” Katanya.
            Tawa riang anak-anak SMA N 1 Slawi menjadi salah satu penghibur disaat lelah mendera “ Saya selalu senang melakukan pekerjaan ini, begitu berwarna, anak-anak yang Selalu ribut saat menunggu giliran fotocopy.” Derai tawa dan suara riuh kendaraan membuat ramai. “ Terkadang saya keteteran, tapi itu tidak pula saya anggap sebagai kesedihan,” Lanjut pria 38 tahun itu.
            Terkadang ada beberapa anak sekolah yang bersedia membantu sebentar saat pulang sekolah. Mereka juga sering mencetak sendiri tugas yang dikasih gurunya karena saya sedang menangani banyak fotocopyan.
            Kini usahanya telah berjalan sukses. Hasil dari usaha ini dirasanya cukup untuk menafkahi keluarganya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dan mengembangkan usahanya dengan melengkapi berbagai alat tulis yang dibutuhkan siswa. Dan ia sangat menikmati usahanya berkat senyuman dan canda  tawa para pelanggan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar