Senin, 28 Oktober 2019


Awal Tak Terlupakan

Dunia yang fana ini memang penuh dengan keindahan. Baik itu berupa keindahan alam maupun indahnya perjalanan hidup. “Hidup itu indah dan akan selalu indah bagi mereka yang senatiasa bersyukur”  itulah motto hidup seorang gadis berparas ayu nan lembut bernama Siti Nur Afifatunnisa. Lika – likunya hidup ini menjadikannya menemukan keindahan dibalik rasa syukur  yang selalu ia panjatkan.
            Hari sudah terlarut malam namun matanya tak bisa diajak kompromi untuk sejenak beristirahat. matanya masih ingin beraktivitas dengan melihat tayangan yang disuguhkan stasiun televisi swasta. Handphonenya berdering pertanda suatu pesan masuk. Ternyata pesan dari teman SMPnya dulu. Ketika dia membuka handphone pikirannya langsung berlari cepat mencari sebuah peristiwa yang tidak terlupakan. Gadis yang kerap disapa afifah ini teringat pengalaman pertama kali dia masuk kerja di salah satu pabrik teh di kabupaten Tegal. Awal yang tak terlupakan. Saat itu dia masih buta akan sebuah pekerjaan. Maklum dia pertama kali bekerja setelah lulus sekolah.
            Awal bekerja, ada semacam training untuk karyawan baru. Dia yang saat itu bekerja dibagian making or packing itu, merasa takut melihat sosok Ibu Kamisah. Seorang pelatih karyawan-karyawan baru. “Kelihatannya dia galak,” fikirnya. Ternyata apa yang dia fikirkan benar. Dia bertubi-tubi disemprot dengan kata-kata yang tidak mengenakkan dari pelatihnya. Penyebabnya karena dia tidak bisa-bisa melakukan hal yang pelatih ajarkan. “ kenapa ga bisa-bisa sih? Yang lain aja bisa. Yang rajin dan hasilnya juga rapih,” kata pelatihnya. “kasihan banget ga bisa-bisa,” bisik teman-temannya.
            Setiap mendapat omongan pahit darinya dia menangis hatinya sambil bertanya kepada diri sendiri “ kenapa aku nggak bisa-bisa, padahal ini gampang”. Dengan tekad yang kuat dan didukung semangat yang membara agar bisa hari berikutnya dia mencoba berusaha agar hasil dari kerjanya rajin dan rapih sehingga tidak omongan pahit dari pelatihnya. Satu minngu berlalu akhirnya dia sudah mulai cekatan dalam bekerja. Hasilnya pun bisa dibilang rajin dan rapih.
            Tak terasa waktu kian berlalu. sekarang sudah satu tahun lebih dia bekerja disitu. Dan sekarang Ibu Kamisah tidak menjadi pelatih lagi dipabriknya dikarenakan faktor usia. “Terimakasih banyak bu, telah mengajarkan ku sehingga aku bisa walaupun caramu kurang bersahabat, tetapi itu membuatku bersemangat agar lebih baik lagi,” kalimat yang ingin dia ucapkan kepada bu Kamisah jika bertemu.

Seperti yang diceritakan oleh Siti Nur Afifatunnisa tanggal 12 Desember 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar